SELAMAT DATANG...!!!

SELAMAT DATANG DI WEBBLOG KELOMPOK INFORMASI MASYARAKAT. WEBBLOG INI MERUPAKAN MEDIA INFORMASI DAN KOMUNIKASI BAGI ANDA UNTUK MENGENAL LEBIH DEKAT KABUPATEN LUMAJANG DARI BERBAGAI ASPEK DIANTARANYA PELAYANAN MASYARAKAT, POTENSI WILAYAH, SARANA-PRASARANA, DAN BEBERAPA INFORMASI LAINNYA YANG BISA ANDA SERAP.. SELAMAT MEMBACA...!!

SPANDUK

SPANDUK

SLOGAN

APA KABAR KIM LUMAJANG? MAJU TERUS, TANPA PAMRIH UNTUK LUMAJANG..!!

BERITA UTAMA

Latest Post

Upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir


Kejadian kematian ibu dan bayi yang terbanyak terjadi pada saat persalinan, pasca persalinan, dan hari-hari pertama kehidupan bayi masih menjadi tragedi yang terus terjadi di negeri ini. Untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir diperlukan upaya dan inovasi baru, tidak bisa dengan cara-cara biasa.

Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, penyebab langsung kematian ibu hampir 90 persen terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan. Sementara itu, risiko kematian ibu juga makin tinggi akibat adanya faktor keterlambatan, yang menjadi penyebab tidak langsung kematian ibu. Ada tiga risiko keterlambatan, yaitu terlambat mengambil keputusan untuk dirujuk (termasuk terlambat mengenali tanda bahaya), terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat keadaan darurat dan terlambat memperoleh pelayanan yang memadai oleh tenaga kesehatan. Sedangkan pada bayi, dua pertiga kematian terjadi pada masa neonatal (28 hari pertama kehidupan). Penyebabnya terbanyak adalah bayi berat lahir rendah dan prematuritas, asfiksia (kegagalan bernapas spontan) dan infeksi.

“Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) dan Angka Kematian Balita (AKB) di Jatim jauh lebih baik bila dibanding dengan AKI dan AKB Tingkat Nasional. Artinya AKI Jatim saat ini sebesar 97,39/100 ribu kelahiran hidup dan AKB sebesar 25,95/1000 kelahiran hidup Sementara Tingkat nasional 228/100 ribu kelahiran hidup (AKI) dan AKBnya 32,59/1000 ribu kelahiran hidup”.

“Jumlah kematian ibu melahirkan di prov. Jatim mengalami penurunan yang sangat signifikan, dari 642 jumlah kematian ibu melahirkan pada Tahun 2013 turun menjadi 291 kematian ibu melahirkan hingga Agustus 2014. Keberhasilan tersebut tidak lain adalah hasil kerja keras para kader posyandu dan tenaga kesehatan yang terus memberikan pendampingan pada ibu-ibu hamil dengan resiko tinggi yang ada diseluruh wilayah Jatim”.

Pernyataan itu disampaikan Bude Karwo panggilan lekat Ibu Nina Soekarwo Ketua Tim Penggerak PKK prov. Jatim saat memberikan pengarahan pada acara Temu Kader Tahun 2014 dalam rangka Kampanye Penurunan Angka kematian Ibu (AKI) di Atrium Mall Of City Surabaya, Rabu (15/10/2014).

Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir harus melalui jalan yang terjal. Terlebih kala itu dikaitkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yakni menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi (AKB) menjadi 23 per 100.000 kelahiran hidup yang harus dicapai. Waktu yang tersisa hanya tinggal tiga tahun ini, tidak akan cukup untuk mencapai sasaran itu tanpa upaya-upaya yang luar biasa.

Implementasi dari 10 program pokok PKK diintegrasikan dengan  pencapaian target MDGs, utamanya untuk menurunkan AKI dan AKB. PKK adalah mitra pemerintah yang memiliki komitmen terhadap pelaksanaan program-program pembangunan melalui pendekatan pemberdayaan, dan sekaligus menjadi pendamping bagi masyarakat dalam mencari solusi permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Posisi itulah yang diperankan oleh tim penggerak PKK dalam memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Program Kesehatan yang termasuk dalam 10 program pokok PKK mempunyai peranan penting dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi. Karena ada perhatian khusus yang ditujukan pada kesehatan ibu dan anak, pasangan usia subur, ibu hamil dan ibu menyusui. Untuk mendekatkan sistem pelayanan kesehatan kepada golongan ini, dibentuk Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU), dengan kader Posyandu yang terlatih.

Ada 5 Pelayanan Dasar di Posyandu, yaitu : Imunisasi, Gizi, Keluarga Berencana, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), dan Penanggulangan Diare. Secara teratur ibu hamil memeriksakan diri di Posyandu, dan membawa anak balitanya untuk pemeriksaan kesehatan (penimbangan anak dan imunisasi). Penyuluhan tentang kesehatan, gizi dan keluarga berencana diadakan di Posyandu, bahkan diadakan pula pemberian maknan tambahan serta demonstrasi tentang makanan bergizi.

Adapun beberapa upaya-upaya dalam percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui Tim Penggerak PKK yang mendapatkan apresiasi inovasi secara langsung oleh Dirjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI, dr. Anung Sugiarto, M.Kes, dengan upaya kesehatan yang telah dilakukan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Jatim serta oleh jajaran kesehatan di Jawa Timur. Seperti; forum penurunan kematian ibu dan bayi (PENAKIB), gerakan bersama amankan kehamilan (GEBRAK) dan pendampingan ibu hamil resiko tinggi.

Sedangkan Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Tim Penggerak PKK juga telah banyak melakukan upaya-upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, diantaranya dengan Program Gerakan Sayang Ibu (GSI), Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi P4K, Posyandu Gerbangmas Siaga, Parent Education, juga Kelas Ibu Hamil, dan Desa Siaga yang juga didukung oleh program Pemkab. Lumajang 2013-2018 yakni 1 desa 1 ambulan.

Berbagai gerakan tersebut, ternyata masih belum mampu memberikan hasil yang menggembirakan, sehingga kemudian dilakukan terobosan Optimalisasi Program GSI dengan Gerakan Masyarakat Cinta Ibu Hamil (Gemas Tabumil). Gerakan ini pada dasarnya merupakan gerakan Pendampingan 1 Kader 1 Ibu Hamil, Gerkan Kunjungan Rumah Bumil dengan Komplikasi, serta Gerakan KIE dan Rujukan Dini Berencana (RDB).

Menurut Dirjen Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI, dr. Anung Sugiarto, M.Kes, berdasarkan data hasil survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI di Indonesia masih tinggi, yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup. Jika dihitung berdasarkan angka tersebut, maka ada 16.155 orang ibu yang meninggal akibat kehamilan, persalinan dan nifas pada tahun 2012.Jumlah tersebut setara dengan jumlah korban kecelakaan 40 pesawat boing 777 yang jatuh dan seluruh penumpangnya meninggal. Di samping AKI, AKB juga masih tinggi di Indonesia. Pada tahun 2012, angkanya 32 per 1000 kelahiran hidup atau setara dengan 144.000 dan setara dengan penumpang 360 pesawat Boing 777.

Menurut Ketua TP PKK Prov. Jawa Timur, Ibu Nina Soekarwo, berdasarkan data dari Dinkes Kab/ Kota Angka kematian Ibu di Jawa Timur saat ini sudah dibawah target yang ditetapkan MDGs yakni tahun 2011 sebesar 101,4, tahun 2012 sebesar 97,43 dan tahun 2013 sebesar 97,39 per 100.000 kelahiran hidup. Sedang target MDGs AKI tahun 2015 adalah 102/100.000 kelahiran hidup, namun secara absolute jumlah kasus kematian ibu masih tinggi tahun 2013 sebanyak 642 jiwa.

Menurut Ketua TP PKK Kabupaten Lumajang, Hj. Supadmi Sjahrazad Masda, berdasarkan data Dinkes Kabupaten Lumajang, AKI dan AKB terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2011, jumlah AKI di Lumajang mencapai 61,15 per 100.000 kelahiran hidup. Kemudian pada 2012 turun menjadi 48,56 per 100.000 kelahiran hidup. “Ini artinya program PKK Lumajang menunjukkan progress yang membanggakan. Mari kita bersama-sama berjuang untuk meningkatkan prestasi ini”.

Sebagai upaya agar penurunan AKI dan AKB di Indonesia bisa teratasi dengan baik maka pemerintah menghapus semua hambatan financial masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan melalui pelaksanaan system jaminan Kesehatan nasional (JKN) yang dijalankan oleh BPJS kesehatan yang berlaku sejak 1 Januari 2014 ini. (an-m/ kim)


Sumber :



Musim Hujan Lagi Waspada Demam Berdarah..!!

Apa beda DD dengan DBD?
Bagaimana Demam Dengue (DD) dapat terjadi?
Demam dengue ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yeng telah terinfeksi. Nyamuk terinfeksi melalui gigitannya pada orang yang terinfeksi sebelumnya. Gejala pertama timbul hari ke-4 sampai ke-7 setelah terinfeksi.

Apa beda DD dengan DBD?
Demam dengue (DD) merupakan penyakit demam akut yang disebabkan virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti. Jenis penyakit ini dapat dibedakan menjadi 2 tipe yakni DD dan DBD. Bedanya DBD merupakan bentuk yang lebih parah, dimana terjadi perdarahan dan syok yang bisa berujung pada kematian. Gejala perdarahan biasanya terjadi 3-5 hari pasca munculnya demam. Daerah endemik penyakit ini ada di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika tengah serta selatan.

Pola kejadian DD/DBD saat ini cenderung berubah, apa maksudnya?
Benar. Pola kejadian DD/DBD saat ini cenderung berubah, tidak lagi hanya terjadi pada masa pancaroba atau musim penghujan, namun bisa terjadi sepanjang musim serta memiliki gejala-gejala yang tidak jelas. Indonesia merupakan negara tropis dengan angka kejadian DD/DBD tinggi. DD/DBD menyebar dengan cepat dan menyerang banyak orang. Jutaan orang mengalaminya setiap tahun dan sebagian besar adalah anak-anak.

Bagaimana gejala umum DD?
Gejala DD umumnya muncul pada hari ke-4 sampai ke-7 setelah terinfeksi gigitan nyamuk Aedes aegipty. Gejalanya hilang timbul (biphasic). Berikut di antaranya:
* Demam tinggi mendadak terus-menerus.
* Sakit kepala berat, terutama bagian dahi.
* Sakit di belakang bola mata.
* Nyeri/sakit pada tubuh dan sendi-sendi.
* Mual/muntah.
* Muka kemerahan.

Bagaimana gejala umum DBD dan Dengue Shock Syndrome?
Hampir serupa dengan gejala DD, selain yang sudah disebut di atas ditambah dengan:
* Sakit/nyeri pada ulu hati terus-menerus.
* Perdarahan pada hidung, mulut, gusi atau memar pada kulit.
* Muntah terus-menerus, kadang disertai darah.
* Tinja yang menghitam seperti batu bara.
* Rasa haus berlebihan (kering di mulut).
* Kulit pucat dan dingin.
* Mengantuk terus-menerus hingga penurunan kesadaran.

Gambaran pelana kuda bukan merupakan gejala penting, mengapa?
Gambaran pelana kuda bukan merupakan gejala penting karena yang harus diwaspadai adalah saat turunnya demam, bukan saat demamnya tinggi. Sebab, saat itulah dimungkinkan terjadinya kebocoran plasma dan bisa berakibat syok. Kewaspadaan terjadinya syok ini sangat penting dan harus diantisipasi dini, sebab bila terlambat bisa menyebabkan kematian. Selain itu tanda-tanda nyeri perut dan muntah-muntah juga merupakan tanda penting lainnya.
Menurut kriteria WHO 1997 gejala klinis DBD adalah:
* Demam mendadak 2-7 hari (demam ini harus mendadak tinggi tanpa sebab; jika hanya sebentar hangat, sebentar turun, bisa dipastikan bukan termasuk gejala klinis DBD).
* Terjadi perdarahan.
* Syok.
* Nadi kecil dan cepat dengan tekanan nadi
* Hasil laboratorium menunjukkan: trombositopenia 100.000 dan kadar hemokonsentrasi lebih 20% dari normal.
* Untuk memastikan ada baiknya disertai pemeriksaan serologis IgM dan IgG dengue.

(http://www.tabloid-nakita.com)

Peranan Posyandu Dalam Upaya Penurunan AKI dan AKB


Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.

Pengintegrasian layanan sosial dasar di Posyandu adalah suatu upaya menyinergikan berbagai layanan yang dibutuhkan masyarakat meliputi perbaikan kesehatan dan gizi , pendidikan dan perkembangan anak, peningkatan ekonomi keluarga , ketahanan pangan keluarga dan kesejahteraan sosial.

UKBM adalah wahana pemberdayaan masyarakat, yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat, dikelola oleh, dari, untuk dan bersama masyarakat, dengan bimbingan dari petugas puskesmas, lintas sektor dan lembaga terkait lainnya.

Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitasi yang bersifat non instruktif, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, agar mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi , potensi yang dimiliki, merencanakan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan dan melakukan pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat.

Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah proses pemberian informasi kepada individu, keluarga atau kelompok (klien) secara terus menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta proses membantu klien, agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek pengetahuan atau knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek sikap atau attitude), dari yang mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek tindakan atau practice).

Pelayanan kesehatan dasar di Posyandu adalah pelayanan kesehatan yang mencakup sekurang-kurangnya 5 (lima) kegiatan, yakni Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), Imunisasi , Gizi, dan penanggulangan diare. Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat utamanya adalah bayi, Anak Balita, Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui, Pasangan Usia Subur (PUS).

Fungsi Posyandu adalah :
1.     Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat dalam rangka mempercepat penurunan  AKI, AKB, dan AKABA.
2.     Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.

Manfaat Posyandu :
1.     Bagi Masyarakat
a.     Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan dasar terutama berkaitan dengan penurunan AKI, AKB, dan AKABA.
b.    Memperoleh layanan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan terutama terkait kesehatan ibu dan anak
c.     Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dasar terpadu dan pelayanan sosial dasar sektor lain terkait .

2.     Bagi Kader, Pengurus Posyandu dan Tokoh Masyarakat
a.     Mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang upaya kesehatan yang terkait dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.
b.    Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI, AKB dan AKABA.

3.     Bagi Puskesmas
a.     Optimalisasi fungsi puskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat , pusat pelayanan kesehatan perorangan primer dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat primer.
b.    Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan sesuai kondisi setempat
c.     Mendekatkan akses pelayanan kesehatan dasar pada masyarakat .

4.     Bagi sektor lain
a.     Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan dan sosial dasar lainnya terutama yang berkaitan dengan upaya penurunan AKI, AKB dan AKABA sesuai kondisi setempat.

b.    Meningkatkan efisiensi melalui pemberian pelayanan secara terpadu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing sektor.

Bude Karwo Puji Prestasi PKK Lumajang Dalam Pencapaian Target MDG’s


Ketua Tim Penggerak PKK Jatim, Dra. Hj. Nina Soekarwo, M.Si memuji prestasi PKK Kabupaten Lumajang yang berhasil mencapai target Millenium Development Goals (MDG's). Yaitu dalam menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI).

"Alhamdulillah, berkat peran PKK, AKI di Lumajang hanya 46 per 100.000 kelahiran hidup. Jauh lebih rendah dari nasional yang mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Ini prestasi yang luar biasa" puji Bude Karwo, sapaan lekatnya saat melantik Ketua TP PKK dan Ketua Dekranasda Kabupaten Lumajang, Dra. Hj. Supadmi Sjahrazal Masdar,APt di Gedung PKK Lumajang, Senin (26/8).

Berdasarkan data, AKI di Lumajang terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2011, jumlah AKI di Lumajang mencapai 61,15 per 100.000 kelahiran hidup. Kemudian pada 2012 turun menjadi 48,56 per 100.000 kelahiran hidup. “Ini artinya program PKK Lumajang menunjukkan progress yang membanggakan. Mari kita bersama-sama berjuang untuk meningkatkan prestasi ini” tuturnya.

Salah satu upaya yang dapat dioptimalkan adalah menggandeng berbagai pihak untuk ikut dalam kegiatan PKK. Baik organisasi sosial, BUMN, maupun corporate sosial responsibility (CSR) perusahaan swasta. “Dana PKK baik dari APBN maupun APBD jumlahnya terbatas, sehingga kita perlu menggandeng pihak lain untuk memaksimalkan program PKK” tambahnya.

Bude Karwo tak memungkiri, terkadang PKK mengalami kendala dalam mengajak kerja sama berbagai pihak tersebut. Hal ini karena program PKK yang diajukan belum jelas, sehingga mereka tidak mau bergabung. “Jadi program yang disusun PKK harus jelas dan sejalan dengan program pemerintah. InsyaAllah pihak lain mau bergabung dan ikut menyukseskan program kita” katanya.

Mengenai Dekranasda di Kabupaten Lumajang, Bude Karwo siap mendukung kerja sama dalam penyelenggaraan pameran dan fasilitas pelatihan. Ini karena Lumajang memiliki potensi yang cukup besar di bidang UMKM. Khususnya kerajinan perak, bordir, sulam, garmen, enceng gondok dan kerajinan lainnya.

“Pemprov siap memfasilitasi jika Dekranasda Lumajang ingin mengadakan pelatihan dan memamerkan produk kerajinannya. Tak hanya itu, Pemprov bekerja sama dengan Bank Jatim dan Bank BPR Jatim juga siap memberikan bantuan modal kepada Dekranasda dan masyarakat Lumajang yang ingin berwirausaha” tutupnya. (Humas Setda Kab. Lumajang)

Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)


Jaminan Kesehatan Masyarakat adalah jaminan perlindungan untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh (komprehensif) mencakup pelayanan promotif, preventif serta kuratif dan rehabilitatif yang diberikan secara berjenjang bagi masyarakat/peserta yang iurannya di bayar oleh Pemerintah. Sumber dana Jaminan Kesehatan berasal dari pemerintah pusat (APBN) melalui mekanisme dana Bantuan Sosial. Jaminan Kesehatan di peruntukkan untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.

Jaminan Kesehatan ini dimulai tahun 2005 dengan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat kemudian mengalami perubahan Jaminan Kesehatan Masyarakat dengan tidak ada perubahan cakupan masyarakat miskin.

Tujuan umum penyelenggaraan Jamkesmas yaitu meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyrakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.

Tujuan Khusus penyelenggaraan Jamkesmas yaitu:
1.     Meningkatnya cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya dan di Rumah Sakit.
2.     Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
3.     Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.

Tapi pada kenyataannya, salah satu masalah yang paling memberatkan bagi penderita penyakit/ orang yang sakit kebanyakan dari kalangan menengah kebawah adalah kebutuhan biaya. Tentunya hal ini merupakan masalah besar yang sagat dilematis karena apabila tidak dapat membiayai perawatan dari penyakit yang dideritanya akan membahayakan jiwa.

Dalam merespon hal ini Pemerintah Pusat maupun Daerah saat ini telah mempunyai program pembiayaan kesehatan bagi masyarakat khususnya yang kurang mampu yaitu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat, dimana dengan program tersebut masyarakat dapat memperoleh perawatan dan pengobatan dengan mendapatkan keringanan biaya bahkan hingga gratis.

Mengurus jamkesmas sebenarnya tidak sulit, hal ini hanya karena faktor ketidaktahuan prosedur dan kelengkapan administrasi apa saja yang perlu di persiapkan serta takut dipersulit kepengurusannya, sehingga hal ini membuat masyarakat enggan untuk mengurus jamkesmas.

Dengan demikian akan lebih baik jika masyarakat yang tidak mampu untuk mengurus jamkesmas terlebih dahulu, ketimbang harus menunggu sakit agar ketika sakit sudah memiliki pegangan.

Berikut merupakan syarat dalam mengurus jamkesmas di daerah (Syarat ini disesuaikan dengan kebijakan masing-masing daerah) :

1.     Surat keterangan tidak mampu yang ditandatangani oleh RT, RW dan Lurah dengan dokumen pendukung melampirkan Foto Copy KTP dan KSK
2.     Surat kemudian diserahkan ke PKM/Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) setempat.
3.  Selanjutnya pihak PKM/Puskesmas setelah menerima surat akan melakukan survey (verifikasi) oleh petugas khusus.
4.    Selanjutnya PKM/Puskesmas akan membuat surat rekomendasi yang ditujukan ke Dinas Kesehatan Kota atau Dinas Sosial Kota setempat
5.     Instansi tersebut kemudian yang akan mengeluarkan Kartu Jamkes.

Untuk penggunaan kartu Jamkes saat di Rumah Sakit adalah sebagai berikut (Syarat ini disesuaikan dengan kebijakan masing-masing daerah):

1.     Rujukan dari Puskesmas
2.     Foto Copy KTP
3.     Foto Copy KSK
4.     Foto Copy Kartu Jamkesmas
5.     Surat Rawat Kelas III (bila sudah dirawat)
6.     Surat Keterangan Lahir (untuk bayi baru lahir)


Bila kemudian penderita dirujuk ke Rumah Sakit Rujukan atau diluar domisili kota/kabupaten, maka memerlukan surat rekomendasi dari Dinas sosial/Dinas Kesehatan dan surat rujukan dari rumah sakit setempat.

Sumber : http://www.jamsosindonesia.com

Workshop Upaya Penurunan AKI dan AKB


Workshop Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu ( AKI ) dan Angka Kematian Bayi ( AKB ) yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang Drs. Sulsum Wahyudi, Skm, bertempat di Hotel Lumajang pada hari Selasa (6/5), dengan menghadirkan nara sumber dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Bpk. Afianto, Skm. Peserta workshop terdiri dari dari TP. Pkk Kabupaten Lumajang, perwakilan-perwakilan dari 5 Rumah Sakit, Dinas instansi terkait, organisasi wanita, TP.PKK Kecamatan Gucilait, Bidan Gucialit dan Kader-kader Posyandu. Penurunan AKI dan AKB ini berdasarkan dengan MDGs (Millenium Development Goals ) merupakan komitmen global untuk mencapai kehidupan yang lebih baik , serta kerangka pijakan yang digunakan untuk mencapai target-target pembangunan pada tahun 2015 mendatang.

Berkaitan dengan MDGs tersebut , isu yang tidak kalah penting adalah berkaitan dengan penurunan angka kematian bayi dan peningkatan kesehatan ibu. Dengan isu tersebut target yang hendak dicapai adalah menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) hingga tiga perempatnya antara tahun 1990 sampai 2015. Target tersebut untuk saat ini sepertinya sulit untuk diwujudkan apabila tidak segera dilakukan langkah-langkah konkret.

Kesehatan ibu sangat terkait dengan pencapaian seluruh target MDGs. Artinya, AKI dan AKB adalah indikator penting dalam pembangunan. Apabila masalah AKI dan AKB tidak ditangani dengan baik, maka akan terjadi lost generation.

Melihat kondisi empiris tersebut, maka perlu dilakukan identifikasi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka AKI dan AKB di Kabupaten Lumajang. Setelah mengetahui faktor-faktor penyebabnya, maka langkah selanjutnya adalah perumusan formulasi kebijakan yang tepat. Formulasi kebijakan menjadi strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Mengingat kesehatan merupakan hak dasar setiap individu, dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin kesehatan rakyatnya melalui pemberian layanan kesehatan yang memadai dan berkualitas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab tingginya AKI dan AKB. Dari hasil identifikasi tersebut dapat dijadikan sebagai rekomendasi sebagai upaya perumusan kebijakan.


Untuk mengatasi hal tersebut diatas Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang menggandeng seluruh instansi terkait untuk saling memikirkan dan bekerja sama dalam mengentaskan penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Lumajang, dengan dipandu oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, para peserta workshop untuk membuat Rencana Tindak Lanjut untuk penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Lumajang sesuai dengan tupoksinya masing-masing. (humas-lmj)

Gemas Tabumil-Gerakan Masyarakat Cinta Ibu Hamil- Komitmen Dukungan TP PKK Kabupaten Lumajang Dalam Penurunan AKI-AKB


Tujuan Pembangunan Millenium (TPM) tahun 2015 salah satunya adalah mencapai Status Kesehatan Ibu dengan indikator keberhasilan menurunnya AKI menjadi 102/100.000 KH. Sebagai bentuk dukungan, Indonesia mentargetkan AKI tahun 2015 pada angka 115/100.000 KH seperti yang tertuang dalam Program “MPS (Making Pregnancy Safer) dan Child Survival.

Berdasar hasil SDKI tahun 2012-2013 AKI di Indonesia masih sebesar 359/100.000 KH, kondisi mana menggambarkan masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat utamanya ibu hamil di Indonesia. Kondisi hampir serupa juga terjadi di Jawa Timur dan di Kab. Lumajang.

Terdapat berbagai penyebab kematia ibu ini, diantaranya karena penyakit yang diperberat kehamilan, perdarahan serta Pre Eklamsi. Selain itu juga karena faktor karakteristik Ibu hamil dan aspek pelayanan kesehatan sehingga dapat disimpulkan penyebab kematian ibu sangat kompleks. Terdapat penyebab langsung (seperti perdarahan, infeksi, dan lainnya), serta penyebab tidak langsung (seperti faktor Ekonomi, sosial, budaya, rujukan, tahap pemeriksaan, dan lain-lain).
Gemas Tabumil

Penandatanganan ”Komitmen Dukungan TP-PKK Kabupaten Lumajang dalam Penurunan AKI-AKB di Kabupaten Lumajang dengan ”Gemas Tabumil” oleh Ketua TP-PKK Kab. Lumajang

Berangkat dari kompleksitas faktor penyebab kematian ibu diatas, maka alternatif pemecahan masalah yang dipilih mutlak harus melibatkan seluruh unsur yang berperan sebagai penyebab. Di Kabupaten Lumajang sudah banyak melakukan upaya-upaya untuk menurunkan angka kematian ibu, diantaranya dengan Program Gerakan Sayang Ibu (GSI), Program P4K, Posyandu Gerbangmas Siaga, Desa Siaga, Parent Education, juga Kelas Ibu Hamil.

Berbagai gerakan tersebut, ternyata masih belum mampu memberikan hasil yang menggembirakan, sehingga kemudian dilakukan terobosan Optimalisasi Program GSI dengan Gerakan Masyarakat Cinta Ibu Hamil (Gemas Tabumil). Gerakan ini pada dasarnya merupakan gerakan Pendampingan 1 Kader 1 Ibu Hamil, Gerkan Kunjungan Rumah Bumil dengan Komplikasi, serta Gerakan KIE dan Rujukan Dini Berencana (RDB).

Agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan Optimal, serta mengingat banyaknya tugas dan tanggungjawab kader, maka penting dilakukan kegiatan “Peningkatan Kapasitas Kader dalam Pelayanan Kesehatan Ibu hamil”. Salah satu bentuk kegiatan ini dilakukan dengan mengadakan Seminar Peningkatan Kapasitas Kader Dalam Gemas Tabumil. Seminar sehari ini dilaksanakan Dinas Kesehatan Kab. Lumajang bekerjasama dengan TP-PKK Kabupaten Lumajang.

Selain seminar, dalam kegiatan ini juga akan dilaksanakan Komitmen Dukungan TP-PKK Kabupaten Lumajang dalam Penurunan AKI-AKB di Kabupaten Lumajang dengan “Gemas Tabumil” berupa Pendampingan 1 Kader PKK 1 Ibu Hamil.

Secara umum tujuan kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader dalam pelayanan kesehatan ibu hamil sehingga mampu memberikan pendampingan dengan baik kepada Ibu Hamil. Sedangkan tujuan khusus untuk meningkatnya pengetahuan dan peran kader dalam gerakan Gemas Tabumil, Perawatan Kesehatan Ibu Hamil, Risiko Tinggi/ Komplikasi Ibu hamil dan Bahayanya, Komunikasi Efektif dan Pencatatan dan Pelaporan Kader Gemas Tabumil

Kegiatan seminar diatas dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 9 September 2014, di ruang Pertemuan Panti PKK Kabupaten Lumajang. Peserta seminar sebanyak 60 orang, berasal dari Ketua TP-PKK Kecamatan, Koordinator Kader Kesehatan Kecamatan, Pokja IV PKK, Dinas Kesehatan :Dinas pemberdayaan Masyarakat,Seksi Humas Pemkab, dan Sekretariat.


Dalam seminar ini juga dilakukan penandatangan ”Komitmen Dukungan TP-PKK Kabupaten Lumajang dalam Penurunan AKI-AKB di Kabupaten Lumajang dengan ”Gemas Tabumil : Pendampingan 1 kader PKK 1 ibu hamil”.

Lumajang Peringati Hari Cuci Tangan Sedunia


Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) tahun 2014  yang jatuh pada tanggal 15 Oktober lalu dirayakan secara meriah oleh siswa-siswi Sekolah Dasar Ditotrunan 01 Kabupaten Lumajang. Ratusan Anak akan melakukan cuci tangan dengan sabun secara bersama-sama sebagai bagian dari kampanye gerakan cuci tangan pakai sabun. Jum’at (31/10/2014).

Acara yang diadakan di halaman SD Negeri Ditotrunan 01 Kabupaten Lumajang ini dihadiri oleh Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Lumajang, Hj. Tutuk As’at. Pada kesempatan ini, beliau pun memberikan sambutan soal pentingnya melakukan cuci tangan pakai sabun.

"Selama ini masyarakat sering salah sangka. Dikiranya ‎cuci tangan dengan air saja sudah cukup. Padahal belum karena tidak semua kuman dan bakteri hilang dengan air saja. Makanya harus cuci tangan pakai sabun," tutur Hj. Tutuk As’at.

Dilanjutkan Hj. Tutuk As’at juga bahwa cuci tangan pakai sabun dapat mengurangi risiko terserang diare dan penyakit lainnya sebesar 40 persen. Tak hanya diare, menurutnya cuci tangan pakai sabun dapat menghindarkan anak-anak terserang penyakit mematikan seperti flu burung hingga Ebola.

"Anak-anak dapat terhindar dari penyakit mematikan seperti diare dengan cuci tangan pakai sabun. Bahkan cuci tangan pakai sabun juga dapat mengurangi risiko terserang flu burung, hingga Ebola," sambungnya lagi.

Menurut, WHO Representative dor Environmental Health, ‎Sharad Adhikary, MSc, mengemukakan bahwa Hari cuci tangan sedunia ini juga diperingati oleh negara-negara lain di dunia. Dengan dirayakan oleh seluruh negara di dunia, harapannya cuci tangan tidak lagi di sepelekan dan dianggap remeh.


"Faktanya banyak penyakit yang bisa dihindari hanya dengan cuci tangan pakai sabun," tuturnya. (an-m/ kim)

LAYANAN E-KTP

BUKU PROFIL KIM

 
Sekretariat KIM Sinar Harapan : Jl. Raya Tukum No. 7/ 11 Desa Tukum | Kecamatan Tekung | Kabupaten Lumajang
Copyright © 2013. KIM SINAR HARAPAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger